Home / Jakarta / Calon Independen, Bagaimana Nasibmu Kini?

Calon Independen, Bagaimana Nasibmu Kini?

Jakarta. Dinamikanews.com

*_“SSI memprediksi, tingkat kemenangan calon independen di pilkada serentak tahun 2018 ada direntang 2% – 5% wilayah dari 171 yang akan menggerlar pilkada”_*

Akhir bulan november 2017, merupakan waktu dimana tahapan pilkada serentak 2018 untuk pendaftaran calon independen telah dimulai. Berkaitan dengan tahapan pilkada ini, Skala Survei Indonesia ( SSI ) melakukan penelitian guna mengetahui gambaran umum tentang kiprah calon selama mengikuti kontestasti pilkada langsung.

Merujuk hasil penelitian ini, SSI kemudian mencoba untuk memprediksi, bagaimana kira-kira prospek calon independen di pilkada 2018?

Untuk mengetahui kiprah dan melihat prospek calon independen ini, SSI mengambil sampel hasil pilkada serentak yang dihelat pada tahun 2015 ( yang digelar di 264 wilayah) dan tahun 2017 (digelar di 101 wilayah) sebagai subjek penelitian guna dijadikan dasar analisis. Dan berikut hasil penelitiannya:

*Hadir diwilayah DPT Kecil*

Pada pilkada serentak tahun 2015, ada 264 wilayah yang menggelar pilkada. Dari jumlah tersebut, calon indepeden hadir di 35,0% wilayah. Sisanya (65,0% wilayah) semua pasangan calon diisi oleh kandidat yang berasal dari jalur partai politik.

Sementara pada pilkada 2017, ada 101 wilayah yang menggelar pilkada. Dari jumlah tersebut, calon independen hadir di 38,6% wilayah. Sisanya (61,4% wilayah) semua pasangan calon diisi oleh kandidat yang berasal dari jalur partai politik.

Jika dilihat berdasarkan jumlah daftar pemilih tetap (DPT), calon independen mayoritas hadir diwilayah yang memiliki jumlah DPT kecil. Dari 100% calon independen yang ada pada pilkada 2015, 77,8% diantaranya berada diwilayah dengan jumlah DPT dibawah 500 ribu. Sisanya, 22,2% berada diwilayah dengan jumlah DPT diatas 500 ribu.

Demikian halnya pada pilkada serentak tahun 2017. Dari 100% calon independen yang ada pada pilkada 2017, 89,7% diantaranya berada diwilayah dengan jumlah DPT dibawah 500 ribu. Sisanya, 10,3% berada diwilayah dengan jumlah DPT diatas 500 ribu.

*Proporsi Kemenangan Kecil*

Bagaimana tingkat kemenangan calon independen jika dibandingkan dengan calon yang berasal dari jalur partai politik?

Dari 100% wilayah yang menghadirkan calon independen pada pilkada serentak 2015, hanya 14,4% wilayah saja yang bisa dimenangi oleh calon independen. Sisanya, 85,6% dimenangi oleh calon dari parpol.

Sementara dari 100% wilayah yang menghadirkan calon independen pada pilkada serentak tahun 2017, hanya 7,7% wilayah saja yang bisa dimenangi oleh calon independen. Sisanya, 92,3% wilayah lagi-lagi dimenangi oleh calon-calon dari partai politik.

Jika tingkat kemenangan calon independen ini dipersentasikan dari jumlah seluruh wilayah yang menggelar pilkada, angka kemenangannya makin kecil lagi.

Pada pilkada serentak tahun 2015, dari 264 wilayah, calon independen hanya berhasil menang di 4,92% wilayah saja. Sementara sisanya, 95,08% wilayah, dimenangi calon dari jalur partai politik.

Pada pilkada serentak 2017, persentasi kemenangan calon independen lebih kecil lagi. Dari 101 wilayah yang menggelar pilkada, calon independen hanya berhasil menang di 2,97% wilayah saja. Sisanya, 97,03% berhasil dimenangi oleh calon-calon dari parpol.

*Hanya Menang di wilayah DPT Kecil*

Jika dilihat berdasarkan jumlah DPT, mayoritas wilayah yang bisa dimenangi oleh calon independen hanya terdapat didaerah yang memiliki DPT-DPT kecil.

Pada pilkada serentak 2015 misalnya. Dari 100% calon independen yang berhasil memenangi kontestasi, 92,3% berada diwilayah yang memiliki jumlah DPT dibawah 600 ribu. Hanya 7,7% yang berhasil menang diwilayah dengan jumlah DPT diatas 500 ribu.

Distribusinya sebagai berikut. Dari 100% wilayah yang berhasil dimenangi oleh calon independen pada pilkada 2015, 23,1% berada diwilayah dengan jumlah DPT dibawah 100 ribu. 30,8% berada diwilyah dengan jumlah DPT 100 – 200 ribu. 7,7% berada diwilyah dengan jumlah DPT 200 – 300 ribu. 7,7% berada diwilyah dengan jumlah DPT 300 – 400 ribu. 7,7% berada diwilyah dengan jumlah DPT 400 – 500 ribu. 35,4% berada diwilyah dengan jumlah DPT 500 – 600 ribu. Sementara 7,7% berada diwilyah dengan jumlah DPT diatas 2 juta.

Sementara pada pilkada 2017, lebih miris lagi. Dari 100% wilayah yang berhasil dimenangi oleh calon independen, kesemuanya berada diwilayah dengan jumlah DPT dibawah 300 ribu.

Distribusinya sebagai berikut. Dari 100% wilayah yang berhasil dimenangi oleh calon independen pada pilkada 2017, 33,3% berada diwilayah dengan jumlah DPT dibawah 100 ribu. 33,3% berada diwilyah dengan jumlah DPT 100 – 200 ribu. Dan 33,3% berada diwilyah dengan jumlah DPT 200 – 300 ribu.

*Keikutsertaan dan prediksi kans kemenangan calon Independen di Pilkada 2018*

_Bagaimana kans jumlah peserta calon independen pada pilkada serentak 2018?_

Pilkada serentak 2018 akan digelar di 171 wilayah. Berdasarkan jumlah DPT, 63,7% diantaranya adalah wilayah yang memiliki jumlah DPT dibawah 500 ribu. Sementara 36,3% sisanya berada diwilayah dengan jumlah DPT diatas 500 ribu.

Melihat komposisi ini, dan merujuk fakta pada pilkada serentak sebelumnya, SSI masih meyakini bahwa calon independen tetap akan banyak hadir dipilkada 2018. SSI memprediksi, calon independen akan hadir di rentang 30% – 40% wilayah yang akan menggelar pilkada di 2018.

*_Bagaimana kans menang calon independen pada  pilkada 2018?_*

Merujuk fakta-fakta yang sudah disajikan di atas, SSI memprediksi bahwa tingkat kemenangan calon independen tak akan banyak berubah. Tingkat kemenangan calon indepeden dibandingkan dengan calon dari parpol ada direntang 2% – 5% wilayah dari 171 yang akan menggerlar pilkada 2018. Sisanya, 95% wilayah sepertinya masih akan dimenangkan oleh calon dari partai politik.

*Penyebab calon independen sulit menang dari calon parpol*

Yang menarik untuk dilihat kemudian adalah, apa faktor penyebab calon independen sulit bersaing dengan calon-calon dari partai politik?

Saya melihat, setidaknya ada 4 perkara yang melatarbelakangi kenapa calon independen sulit menang melawan calon dari parpol. Faktor-faktor itu antara lain:

*Pertama,* calon-calon yang diusung oleh partai politik, merupakan calon terbaik diwilayah kontestasti.

Saat ini, partai politik dalam memilih pasangan calon yang akan didukung dalam kontetstasi pilkada tidak lagi serampangan. Saya melihat, mayoritas sudah melalui proses seleksi yang cukup ketat.

Setidaknya ada dua tahapan yang dilakukan oleh parpol dalam memilih calon. Tahapan pertama, mayoritas parpol menggunakan analisis ilmiah dalam proses seleksi dengan menggunakan metode survei. Langkah ini kemudian diiris dengan tahapan kedua, yakni analisis kualitatif untuk bisa mewadahi kepentingan parpol bersangkutan.

Dengan dua tahapan yang dilakukan oleh parpol ini, maka calon-calon terbaik dimayoritas wilayah yang akan menggelar pilkada sudah “dimonopoli” oleh parpol. Itu sebabnya, calon independen yang maju biasanya adalah “sisa” calon yang sejatinya tidak memiliki kans menang besar. Faktor ini menjadi penyebab utama kenapa calon independen cukup kesulitan bersaing dengan calon-calon dari parpol.

*Kedua,* proses kerja politik pemenangan.

Dalam kontestasi pemilihan langsung, faktor utama kemenangan pasangan calon akan sangat tergantung pada proses kerja politik. Pembentukan jaringan pemenangan, proses penyampaian visi-misi dan program kerja (campaign), dan penjagaan suara pada saat proses pemungutan suara (voting process), merupakan kegiatan yang tidak mudah.

Padahal, untuk menjalani proses itu semua, calon independen harus menangani sendirian. Tentu ini sangat berat. Sangat berbeda dengan calon parpol. Proses pemenangan ini biasanya hanya tinggal menempel pada jaringan parpol pengusung. Parpol akan menjadi mesin pemenangan yang sangat efektif bagi calon yang maju berkontestatsi.

Adanya upaya gandeng-renteng menangani proses kerja politik pemenangan dari calon perpol, menjadi penyebab kedua kenapa calon independen sangat sulit bersaing dengan calon-calon dari parpol.

*Ketiga,* ongkos politik, political cost.

Kita semua sudah banyak menerima informasi, bahwa untuk maju berkontestasi dalam pilkada langsung membutuhkan ongkos politik yang tidak murah. Upaya campaign hingga penjagaan suara membutuhkan pembiayaan yang cukup besar.

Untuk calon independen, proses pembiayaan ini biasanya harus ditanggung tunggal oleh pasangan. Sementara calon dari parpol, yang memang merupakan calon-calon yang memiliki kans menang besar berdasarkan analisis ilmiah, upaya pembiayaan ini biasanya juga ditanggung secara gandeng-renteng dari unsur-unsur partai pengusung. Kondisi ini makin membuat calon-calon independen cukup sulit untuk bersaing dengan calon-calon dari parpol.

*Keempat,* relasi dengan DPRD

Dibeberapa wilayah, saya melihat bahwa relasi dengan DPRD pasca terpilih, menjadi pertimbangan calon-calon yang sudah memiliki modal sosial baik (popularitas dan eleksi) untuk maju menjadi calon independen. Kenapa?

Besarnya kans menang pasangan calon, tentu harus juga memikirkan terlaksananya program kerja yang dijanjikan kepada masyarakat ketika betul-betuk si calon bisa memenangi kontetstasi. Tentu yang paling menentukan program terlaksana atau tidak dengan lancar, sangat tergantung pada relasi eksekutif (kepala daerah) dengan legislatif (DPRD). Kesepakatan anggaran, prioritas program kerja yang didahulukan, sangat tergantung bagaimana eksekutif bisa bekerja sama dengan legislatif.

Belum lagi, calon independen ini sudah harus berkonfrontasi dengan anggota-anggota DPRD ketika proses kontestasi sedang berjalan. Sebagian besar anggota DPRD tentu akan mati-matian berjuang untuk bisa memenangkan calon yang diusung oleh parpolnya daripada mendukung calon independen. Faktor ini juga turut menjadi hambatan kenapa calon independen cukup sulit bersaing dengan calon-calon dari parpol.

Perkara-perkara diatas adalah faktor yang bisa menjelaskan kenapa calon independen cukup sulit bersaing dengan calon-calon dari parpol.

Demikian analisis calon independen dalam pilkada di Indonesia. Jika ada yang perlu didiskusikan lebih dalam, bisa menghubungi kami.

*Abdul Hakim MS*

Direktur Eksekutif Skala Survei Indonesia ( SSI )

CP : 0812-1897-883

About Dadang aripudin

Check Also

1.500 Peserta akan Ikuti Turnamen Sepak Bola Fraksi PDI Perjuangan

Jakarta, dinamikanews.com Sekitar 1.500 peserta bakal mengikuti gelaran turnamen sepak bola usia 8, 10 dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Featured Video